Penanganan Bahan Kimia Laundry

Penanganan zat-zat kimia di instalasi Laundry

1. Alkaline Booster
• Guna : Cairan penambah sifat alkali
• Ciri-ciri khusus : Cairan keruh putih, Ph 12,0-13,0
• Sifat : Bila terkena panas akan terkomposisi menjadi gas yang mungkin beracun dan iritasi, tidak mudah terbakar.
• Bahaya kesehatan :
o – iritasi mata, iritasi kulit,
o – Bila terhirup menyebabkan oedema paru
o – Bila tertelan menyebabkan kerusakan hebat pada selaput lendir.
• Pertolongan pertama :
o – Mata : cuci secepatnya dengan air banyak-banyak
o – Kulit : cuci kulit secepatnya dengan air, ganti pakaian yang terkontaminasi
o – Terhirup : pindahkan dari sumber
o – Tertelan : cuci mulut, minum 1 atau 2 gelas air ( atau susu ) Pertolongan selanjutnya : dengan mencari pertolongan medis tanpa ditunda. Tindakan pencegahan :
o – Kontrol teknis, gunakan ventilasi setempat, peralatan pernafasan sendiri.
o – Memakai APD
o – Penyimpanan dan pengangkatan : simpan ditempat aslinya, wadah tertutup dibawah kondisi kering, ventilasi yang baik, jauhkan dari asam dan hindarkan dari suhu ekstrim
2. Detergen
• Guna : detergen laundry bubuk.
• Ciri-ciri khusus : serbuk putih bintik biru, Ph 11,0-12,0
• Sifat : Bila terkena panas akan terkomposisi menjadi gas yang mungkin beracun dan iritasi, tidak mudah terbakar.
• Bahaya kesehatan :
o – Iritasi mata, iritasi kulit.
o – Bila terhirup : menyebabkan oedem paru
o – Bila tertelan : menyebabkan kerusakan selaput lendir.
• Pertolongan pertama :
o – Mata : cuci secepatnya dengan banyak air
o – Kulit : cuci secepatnya dengan banyak air, ganti pakaian yang terkena.
o – Terhirup : pindahkan dari sumber.
o – Tertelan : bersihkan bahan dari mulut, minum 1 atau 2 gelas air ( atau susu ).
• Pertolongan selanjutnya : dengan mencari pertolongan medis tanpa ditunda.
• Tindakan pencegahan :
o – Kontrol teknis gunakan ventilasi setempat. Peralatan pernafasan sendiri mungkin diperlukan jika bekerja untuk waktu yang lama.
o – Memakai APD
o – Penyimpanan dan pengangkutan : simpan ditempat aslinya, wadah tertutup dibawah kondisi kering ,ventilasi yang baik, jauhkan dari asam dan hindarkan dari suhu ekstrim
3. Oxygen Boost ( Oxygen Bleach / Peroxide Bleach )
Guna : Cairan beroksigen Ciri-ciri : Cair bening, Ph 10,0-11,0 Sifat : Bereaksi dengan bahan-bahan pereduksi, tidak mudah terbakar, beracun untuk ikan ( dilarutkan dulu sebelum dibuang keselokan atau sumber air ). Bahaya kesehatan : – Iritasi berat pada mata, rasa terbakar pada kulit. – Bila terhirup menyebabkan iritasi, oedem paru. – Bila tertelan menyebabkan rasa terbakar Pertolongan pertama : – Mata : cuci secepatnya dengan air – Kulit : cuci kulit secepatnya dengan air, ganti pakaian yang terkontaminasi. – Terhirup : pindahkan dari sumber – Tertelan : cuci mulut, minum 1 atau 2 gelas air ( atau susu) Pertolongan selanjutnya : dgn mencari pertolongan medis tanpa ditunda. Tindakan pencegahan : – Kontrol teknis , gunakan ventilasi setempat peralatan pernafasan sendiri mungkin diperlukan untuk penggunaan yang lama. – Memakai APD – Penyimpanan dan pengangkutan : simpan ditempat sejuk dan kering, jauhkan dari asam, hindari sumber panas.
4. Chlorin Bleach
Guna : bubuk pemutih berchlorin Ciri-ciri khusus : Bubuk putih, Ph 8,0-9,0 Sifat : Bereaksi dengan asam akan mengeluarkan keluarnya gas klorin dengan cepat, tidak mudah terbakar. Bahaya kesehatan : – Iritasi berat pada mata, rasa terbakar pada kulit. – Bila terhirup menyebabkan iritasi saluran nafas, asma, oedem paru dan kanker paru – Bila tertelan menyebabkan rasa terbakar Pertolongan pertama : – Mata : cuci secepatnya dengan air – Kulit : cuci kulit secepatnya dengan air, ganti pakaian yang terkontaminasi. – Terhirup : pindahkan dari sumber – Tertelan : cuci mulut, minum 1 atau 2 gelas air ( atau susu) Pertolongan selanjutnya : dgn mencari pertolongan medis tanpa ditunda. Tindakan pencegahan : – Kontrol teknis , gunakan ventilasi setempat peralatan pernafasan sendiri mungkin diperlukan untuk penggunaan yang lama. – Memakai APD Penyimpanan dan pengangkutan : simpan ditempat sejuk dan kering, jauhkan dari asam, hindari sumber panas.
5. Softener
Guna : cairan pelunak dan pelembut kain. Ciri-ciri khusus : Cairan kental dan mudah mengalir, Ph 4,0-5,0 Sifat :Stabil, tidak mengandung bahan berbahaya, tidak mudah terbakar.. Bahaya kesehatan : – Iritasi berat pada mata, iritasi pada kulit. – Bila terhirup menyebabkan iritasi – Bila tertelan menyebabkan iritasi. Pertolongan pertama : – Mata : cuci secepatnya dengan air – Kulit : cuci kulit secepatnya dengan air, ganti pakaian yang terkontaminasi. – Terhirup : pindahkan dari sumber – Tertelan : cuci mulut, minum 1 atau 2 gelas air ( atau susu) Pertolongan selanjutnya : dengan mencari pertolongan medis tanpa ditunda Tindakan pencegahan : – Kontrol teknis , gunakan ventilasi setempat peralatan pernafasan sendiri mungkin diperlukan untuk penggunaan yang lama. – Memakai APD Penyimpanan dan pengangkutan : simpan ditempat sejuk dan kering, hindari suhu yang ekstrim.

Kimia Laundry di Rumah Sakit

HOSPITAL LAUNDRY

Dunia kesehatan saat ini menjadi suatu sasaran bisnis yang cukup menguntungkan, dimana sarana kesehatan memang sangat diperlukan oleh masyarakat bahkan dari depatermen terkait sudah memberikan ijin untukl pendirian rumah sakit sebagai sarana bisnis namun masih berperan dalam konteks sosial masyarakat, artinya masih menerima pasien-pasien dari golongan kurang mampu yang dijamin oleh Pemerintah. Sebagai sarana bisnis maka pelayanan yang menjadi sasaran dalam bisnis rumah sakit menjadi prioritas sehingga antar rumah sakit sudah menerapkan pola pelayanan yang berbeda-beda. Sekian banyak pola pelayanan yang diberikan dalam bisnis rumah sakit, salah satunya adalah pelayanan dalam rawat inap, dimana salah satu komponen dalam pelayanan rawat inap adalah digunankannya LINEN (bahan tenun/tekstil yang digunakan dalam pelayanan rawat inap, contoh : sepray, sarung bantal, kimono p[asien, gorden, dll). Setelah dipelajari ternyata investasi linen merupakan investasi yang cukup besar dalam bisnis rumah sakit, sehingga apabila ada kesalahan dalam pengadaan linen maka rumah sakit harus menanggung kerugian yang cukup besar seperti; angka kuman linen yang tinggi, kualitas linen yang rendah, linen yang cepat rusak, linen yang tidak dapat bersih saat dicuci, dll.

Hal tersebut menjadikan pertimbangan secara khusus oleh pihak rumah sakit, sementara ini dunia pendidikan di Indonesia hanya ada pada level Teknologi Tekstil atau dalam bidang Tekstil saja bukan dalam proses perawatan tekstil, ini membuat perawatan tekstil menjadi kendala, untuk hal tersebut terdapat bisnis penunjang yang ada yaitu LAUNDRY. Laundry yang berkembang saat ini adalah laundry untuk retail dan hotel, ada juga yang disebut laundry rumahan, pada dasarnya laundry saat ini belum ada pendidikan secara formal yang ada pendidikan secara otodidag (secara turun-temurun). Walaupun laundry adalah proses pencucian dan semua orang terlahir dengan kemampuan untuk mencuci maka hal tersebut menjadi hal yang disepelan oleh banyak orang, namun demikian saat ini laundry menjadi sasaran yang menguntungkan bagi bisnis, disini membuat bermunculan laundry-laundry di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Sebelum berbicara secara jauh tentang laundry maka harus dipahami beberapa hal terlebih dahulu, yaitu :
1. Tekstil dan teknologinya
2. Kimia Laundry sebagai bahan pencuci
3. Air sebagai media pencuci
4. Mesin cuci sebagai sarana pencuci
5. Sistem pengelolaan air limbah (IPAL) yang digunakan
6. Mikrobiologi dan pertumbuhan mikroorganisme
Minimal untuk menguasai dasar-dasar yang ada dari 6 (enam) hal diatas sangat mendukung dalam kegiatan laundry. Kemampuan dari seorang laundryman adalahmenerapkan hal-hal diatas dalam kegiatan produksi laundry sehingga akan didapatkan keuntungan dan keawetan dari linen yang dicuci.

1. TEKSTIL & TEKNOLOGINYA.
Untuk mengetahui proses pencucian yang tepat maka harus diketahui terlebih dahulu material dari linen tersebut, bahan dasar dari linen adalah tekstil/kain/bahan, sedangkan tekstil dibuat dari serat-serat yang asalnya dari alam ataupun buatan manusia, serat alam contohnya kapas/cotton, sedangkan serat sintetis/buatan sering disebut polyester.
Sifat dari cotton adalah tidak tahan dengan proses pencucian, mudah kusut, menyerap keringat..dll
Sifat dari polyester adalah tahan terhadap proses pencucian, tidak mudah kusut, panas/tidak menyerap keringat..dll
Teknologi yang ada adalah penggabungan dari dua material tersebut sehingga menjadi poly-cotton ( CVC untuk komposisi cotton lebih banyak dibandingkan polyester, TC untuk komposisi polyester lebih banyak dibandingkan cotton ).
Tahun 2000 yang lalu ada teknologi pada tekstil yaitu dengan melapisi tekstil yang sudah jadi menggunakan kimia tertentu sehingga apabila terkena noda maka proses pencuciannya mudah hilangnya noda tersebut teknologi ini disebut Soil Release (SR).
Ada juga yang menggunakan sistem yang sama namun menggunakan kimia yang beda sehingga tekstil tersebut apabila terkena cairan akan seperti air diatas daun talas/keladi jadi tidak menembus dan meresap dalam tekstil tersebut produk ini diberi nama Water Repalent (WR).
Teknologi SR digunakan pada lokasi linen baju seragam kamar operasi (OK), ICU, NICU dan UGD/IGD, semetara pada WR digunakan untuk mengantikan posisi apron/celemek pada dokter yang sedang melakukan tindakan operasi (jas operasi).

Sementara TC digunakan pada sepray rawat inap sehingga kandungan polyester yang tinggi akan memudahkan perawatan linen tersebut.

Perlu diketahui juga bahwa ketebalan tekstil bukan berarti menjadi lebih tahan lama sebab tekstil diproduksi paling maksimal bertahan 300 kali proses pencucian standar, artinya pencucian seperti perlakuakn di rumah tangga, sementara proses pencucian laundry menggunakan kimia yang lebih kuat dan proses yang lebih keras sehingga standar yang digunakan maksimal adalah 200 kali proses pencucian. Pada linen operasi karena ada perlakuan sterilisasi (CSSD) maka linen akan menurun menjadi 150 kali proses pencucian.

Desain pada linen rumah sakit akan mempengaruhi biaya perawatnnya sebab semakin besar dan tebal bahan linen maka semakin banyak kimia yang digunakan, semakin lama proses pencuciannya, dan semakin besar biaya produksinya. Untuk hal tersebut diperhitungkan dengan desain dari linen yang akan digunakan.

Proses pembuatannya linen juga akan berpengaruh pada proses perawatan linen tersebut seperti penggunaan kancing akan berpengaruh pada proses produksi pencucian, banyaknya sambungan baju pada linen akan menimbulkan angka nosokomial yang rentan..dll.
Sehingga pada pemilihan bahan baku untuk linen rumah sakit tidak asal-asalan perlu diperhitungkan untuk mendapatkan yang terbaik.
2. KIMIA LAUNDRY SEBAGAI BAHAN PENCUCI
Proses pencucian membutuhkan bahan untuk media penghilang noda karena sifat noda adalah asam maka bahan kimia untuk penghilang noda bersifat basa hal tersebut digunakan sistem ikatan atom dimana asam dan basa seimbang kan menjadi netral yang dianggap bersih karena noda terangkat sehingga linen menjadi bersih. Namun apakah noda hanya asam saja? ternyata tidak masih ada warna/zat pewarna, lemak/minyak, protein, debu dll.
Untuk mengatasi noda-noda tersebut maka dibuat kimia yang berbeda-beda menurut kegunaannya, antara lain :
A. Detergen
Penghilang noda asam sehingga bersifat basa, dengan pH antara 11-12 bekerja dengan sistem ikatan atom antara asam dan basa sehingga noda akan terangkat dan larut dalam proses pencucian, pemakaian suhu air saat proses pencucian akan memaksimalkan proses yang berlangsung dengan rata-rata suhu air antara 60-80 C, rata-rata detergen bekerja selama 10-15 menit saat proses pencucian dengan jumlah dan takaran tertentu.
Detergen yang digunakan pada proses pencucian secara umum (yang dijual dipasaran umum) sistem bekerjanya sama hanya pada detergen laundry akan lebih kuat maka digunakan sarung tangan untuk mencegah iritasi pada tangan pekerja.
Komposisi detergen retail adalah lehih lembut dan netral sehingga kondisi air tidak berpengaruh banyak terhjadap daya kerja detergen hanya jumlahnya akan berbeda saat proses pencuciannya.
B. Alkalin
Alkalin bekerja memaksa noda untuk keluar dari serat kain sehingga alkalin akan memberikan keuntungan besar saat proses pencucian, karena alkalin akan membantu kerja dari detergen secara maksimal, mempunyai pH antara 12-13 daya kerja alkalin adalah memberikan tegangan pada permukaan kain sehingga akan menambah kekuatan pada daya gesekan saat proses pencucian sehingga noda cepat hilang. Sifat jelek alkalin adalah membuat linen menjadi cepat rusak (bladus/serat kain akan putus dan terangkat ke permukaan kain) bahkan dengan pemakaian yang terus menerus dalam jumlah besar akan membuat linen menjadi cepat rusak/sobek. Campuran antara alkalin dan detergen akan dapat menghilangkan noda darah secara cepat. Kandungan alkalin tinggi biasanya terdapat pada produk sabun colek, sabun batangan dan beberapa produk sabun mandi (sering menimbulkan iritasi atau kulit menjadi kering).
C. Emulsi
Emulsi atau Pengemulsi adalah pembuat busa sehingga apabila ditambahkan emulsi pada proses pencucian maka akan timbul busa lebih banyak dibandingkan tanpa emulsi, sifat busa atau foam adalah mengankat minyak/lemak pada noda yang ada di linen sehingga emulsi akan membantu detergen dalam mengangkat noda lemak/minyak. mempunyai pH antara 10-11 akan bekerja secara baik pada suhu antara 50-75 C. Sifat foam atau busa adalah tidak dapat diuraikan maka pemakaian emulsi harus hati-hati sebab limbahnya berupa busa sangat rentan pada pengolahan limbah (dapat mematikan mikroorganisme pada perlakuan pengelolaan air limbah.
D. Chlorin / Bleach
Digunakan untuk memutihkan linen putih, bekerja dengan cara mengangkat oksigen dari linen sehingga untuk linen warna akan berubah menjadi putih, mempunyai pH antara 8-9 dengan kemampuan bekerja lebih maksimal pada suhu 60 C, kandungan tertentu dari chlorin dapat digunakan sebagai penyeka noda infeksius pada permukaan keras, dan chlorin bukan sebagai disinfektan linen sebab pemakaian yang berlebihan akan merusak linen tersebut baik linen warna ataupun linen putih.
E. Oxygen Bleach
Adalah kebalikan dari chlorin, bekerja dengan menambahkan oksigen pada noda sehingga noda akan tersamar, bekerja dengan pH 10-11, pada suhu 70 C akan lebih maksimal kerja dari oxygen bleach tersebut. Pada proses terentu banyak digunakan untuk menabah cemerlang kain warna, sifatnya adalah menagkat lapisan warna kain sehingga akan terlihat warna kain menjadi lebih cerah. Beberapa produsen menambahkan oxygen bleach dengan H2O2 (hydrogen peroksida) dan digunakan sebagai penghilang noda darah (noda darah akan menjadi busa apabila terkena H2O2, sifat H2O2 akan membuat korosif baik pada linen ataupun pada mesin apabila terkena kulit akan menyebabkan iritasi ringan.
F. Strach
Bubuk putih mengandung tepung jagung yang berguna untuk mengkakukan linen atau tekstil, mempunyai pH antara 5-5,5 digunakan untuk melapisi linen sehingga tahan terhadap noda namun linen menjadi kaku karena sifat dari tepung jagung tersebut. Strach banyak digunakan oleh orang-orang Jepang dan China dimana baju-baju mereka terlihat kaku dan selalu rapi juga terlihat pada seragam Angkatan Laut.
G. Netralizer / Sour
Digunakan untuk menetralkan sifat kimia pada proses pencucian sebelumnya, seperti detergen, alkalin dan emulsi. Mempunyai pH antara 4-5, karena proses pencucian digunakan basa sebagai penghilang noda maka sifat dari netralizer/sour adalah asam.
H. Softener / Pewangi / Pelembut
Digunakan sebagai pelembut dan pewangi sehingga linen yang dicuci akan menjadi lembut dan wangi, aroma wewangian yang digunakan biasanya buah atau bunga, banyak dijual dipasaran umum, untukl linen yang di sterilisasi diharapkan tidak digunakan softener sebab akan beraksi saat dilakukan CSSD. Dibuat dari lemak hewan atau minyak tumbuhan yang akan terurai apabila dilakukan proses pencucian.
I. Disinfektan
Adalah pembunuh mikroorganisme yang digunakan khusus untuk linen, disinfektan yang baik akan mempunyai sifat; bersektrum luas, bekerja cepat/waktu kontak singkat, toksisitas rendah, tidak mengiritasi, tidak korosif dan memiliki aktifitas residual. Proses pencucian linen rumah sakit harus mengunakan disinfektan sebab depatermen kesehatan RI sudah menyampaikan bahwa : cairan yang keluar dari orang sakit adalah infeksius, sehingga harus dicuci mengunakan disinfektan untuk mencegah timbulnya nosokomial.

Setiap produsen kimia laundry akan menerbitkan Material Safety Data Sheet (MSDS) adalah bagaimana kimia laundry tersebut dibuat dengan komposisi kimia apa saja dibuat sehingga menjadi kimia yang siap jual. Sebagai pendampingnya adalah Technical Data Sheet (TDS) adalah bagaimana cara pemakaian dari kimia tersebut aturan pakai, suhu air..dll.
Selain hal tersebut akan dilakukan proses pengujian pemakaian kimia laundry tersebut dalam proses yang ada sehingga dari pihak produsen akan membuat Washing Formula adalah proses bagaimana kimia itu digunakan untuk menentukan komposisi, jumlah dan cara pencuciannya yang sesuai dengan produk yang dibuat oleh produsen kimia laundry tersebut.

3. AIR SEBAGAI MEDIA PENCUCI
Pada dasarnya air berasal dari 3 (tiga) yaitu, air permukaan ( sungai, danau dll), air dalam (mata air) dan air hujan (penguapan permukaan air oleh matahari benjadi awan dan turun sebagi air hujan). Air sebagai bahan baku proses pencucian maka air mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses ini, dimana kerja detergen dan kimia laundry lain akan maksimal apabila kondisi air sesuai standar yang diberlakukan. Mutu air yang bagus adalah yang sesuai untuk air minum. Pada kesadahan air tinggi (hard water) akan mengakibatkan kerja kimia laundry tidak maksimal, sementara pH yang rendah akan membuat detergen menjadi boros pemakiannya, sementara pH yang tinggi pemakaian detergen semakin rendah namun akan berakibat pada hasil pencucian yang terlihat kurang pada linen yang dicuci.
Perhatikan kandunag chlorin pada air yang digunakan untuk proses pencucian dimana air dari perusahaan air minum biasanya menggunakan chlorin untuk penjernih air yang diedarkan untuk itu pengujian chlorin, hardness dan pH air yang rutinitas diujikan.

4. MESIN CUCI SEBAGAI SARANA PENCUCI
Mesin cuci sebagai sarana penunjang dalam proses pencucian sebenarnya tingkat kemampuan SDM yang menjadi prioritas utama dalam dunia laundry sebab SDM yang kurang mampu akan mengakibatkan keuntungan yang berkurang dari pendapatan perusahaan. Kemampuan mesin ditopang oleh adanya teknologi, namun sehebat-hebatnya teknologi masih belum mampu menungguli kemampuan manusia sebagai mahluk Tuhan. Kemampuan mesin pada proses pencucian belum akan maksimal apabila tidak dilakukan spoel hocg/spoting dimana noda yang ada harus diangkat dulu menggunakan penyikatan (mekanikal action) setelah itu baru diserahkan ke mesin cuci dan kimia laundry yang akan menyelesaikan akhir dari proses pencucian tersebut.
Mesin yang mendukung dari kegiatan laundry rumah sakit adalah mesin tumbler dan mesin roll ironer atau flat work ironer. Tumler adalah mesin yang digunakan untuk mengeringkan cucian sehingga cucian kering dan siap untuk disetrika, sementara mesin flatwork ironer atau mesin roll adalah mesin setrikaan untuk linen yang flat atau datar seperti sarung bantal, sepray dll.
Sementara kemampuan SDM yang ada akan dapat memanfaatkan mesin roll untuk menyetrika baju, kimono, celana seragam OK, dll. Sehingga kemampuan SDM yang baik akan dapat memanfaatkan kondisi apapun dalam laundry tersebut, hal ini ditunjang dengan pendidikan yang diperopleh oleh SDM tersebut sehingga mampunyai inovasi-inovasi dalam melaksanakan kegiatan produksi laundry, disamping menerapkan kemampunnya untuk menghemat biaya-biaya yang tidak diperlukan.

Perawatan mesin-mesin laundry harus sama dengan perawatan kendaraan bermotor, dimana biasanya suplier mesin tidak memberikan acuan yang pasti hanya ada garansi dan diharapkan adanya kontrak service nantinya. Secara sederhana dalam buku bawaan mesin (handbook) biasanya dicantumkan kapan perawatan dibutuhkan namuan apabila masih kurang memahami maka pakailah sestim jam sebagai batasan pemakaian mesin tersebut artinya pemakian mesin selama 200 jam maka mesin harus diservice bearing, vanbelt dll. Cara untuk menghitung jam adalah pemakaian sehari berapa jam dijumlahkan selala beberapa hari sehingga menghasilkan angka jam sebesar 200 jam, maka saat itu mesin harus diservice.

Kebersihan mesin harus dijaga sehingga mesin tidak mudah keropos atau kotor gunakan Standard Opertion Prosedure (SOP) untuk kebersihan dan cara pengoperasiam mesin, sehingga mesin akan lebih awet dan terlihat bersih.
5. SISTEM PENGELOLAAN AIR LIMBAH (IPAL) YANG DIGUNAKAN
Harus diingat bahwa laundry rumah sakit adalah penyumbang limbah cair terbesar yaitu sebanyak 40% limbah cair yang ada di rumah sakit, sehingga sistem pengelolaan air limbah di rumah sakit harus ektra kerja keras apabila dari pihak laundry tidak mengunakan kimia laundry yang ramah lingkungan.
Komposisi limbah cair yang dibuang dari laundry tidak terkait dengan kotoran yang ada sebab adanya spoel hocg diwajibakan sehingga ada noda tertentu yang tidak boleh dibuang melalui laundry seperti sisa jaringan tubuh, kapas bekas pembalut luka, dll (dapat dilihat pada sistem pembuangan kontener warna dimana warna menunjukkan bagaimana sampah tersebut diperlakukan dan dibuangnya apakah dibakar atau dibuang ke TPA).
Kimia laundry mempunyai peranan yang sangat besar dalam pengolahan air limbah dimana air yang dibuang mengandung atom-atom bebas yang ada kemungkinan dapat mengikat dengan atom bebas buangan limbah lain yang nantinya akan menjadi ikatan atom yang berbahaya.
Sesuai dengan macam kimia laundry yang digunakan maka kimia tersebut sangat berbahaya apabila dalam jumlah tertentu dibuang ke IPAL atau dalam jumlah tertentu terdapat atom bebas yang mengalir di IPAL, detergen akan membuat bakteri mati dalam kandungan jumlah tertentu, emulsi yang membuat busa banyak akan mengalirkan busa di IPAL sehingga lapisan atas permukaan kolam limbah akan tertutup oleh busa dari emulsi dimana busa tersebut tidak dapat diurai sehingga bakteri aerob yang ada dipermukaan kolam akan mati karena tidak dapat bernapas, chlorin dalam jumlah tertentu akan dapat digunakan sebagai disinfektan sehingga jumlah tertentu larutan chlorin maka akan membunuh mikroorganisme yang ada di IPAL sehingga IPAL akan terganggu kegiatannya ada kemungkinan seluruh mikroorganisme di IPAL akan mati semua dan IPAL tidak berfungsi lagi, netralizer/sour juga akan akan berpengaruh pada pengolahan air limbah karena sifat asam basa dari sour tesebut,sementara softener mempunyai sifat yang sukar dipecah atomnya.
Hal tersebut membuat laundry punya peranan sangat penting dalam pengelolaan air limbah rumah sakit, sebab rumah sakit yang limbahnya tidak dikelola dengan baik akan dicabut ijinnya oleh DEPKES.
6. MIKROBIOLOGI DAN PERTUMBUHAN MIKROORGANISME
Pertumbuhan angka mikroorganisme dalam linen akan menimbulkan terjadinya infeksi nosokomial untuk itu proses pencucian sangat diperhatikan selain penyimpanan pada linen room, pengambilan angka kuman pada linen rumah sakit dilakukan setiap 6 (enam) bulan sekali dimana pengambilan ini akan dilaporkan secara rutin ke pihak terkait.
Proses pencucian yang benar dengan menggunakan disinfektan yang tepat sehingga kuman mati namun limbahnya tidak mempengaruhi pengolahan air limbahnya (IPAL) hal tersebut yang sangat diharapkan oleh bagian kesehatan lingkungan rumah sakit (KESLING).
Pedoman yang digunakan dalam pengambilan angka kuman tersebut adalah Kepmenkes No. 1204/Kepmenkes/SK/X/2004, tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.

Dunia bisnis laundry memang sangat menguntungkan ditinjau dari segi keuntungan maka banyak sistem yang dapat dipadukan dalam bisnis ini, sasaran laundry bukan hanya mencuci namun juga memberikan pelayanan prima pada konsumen. Sementara ini banyak konsultan ataupun pengusah laundry hanya berfikir pada keuntungan dari bisnis laundry namun sisi-sisi yang lain dari laundry tidak pernah diperhatikan maka mereka hanya berfikir mendapatkan keuntungan dari penjualan merawat atau mencuci saja, bagaimana sisi-sisi yang lain dari keuntungan bisnin ini?????????
Apa yang membedakan bisnis laundry dengan mencuci baju yang dilakukan oleh para ibu-ibu yang menerima cucian dan setrika ???????
Saat ini saya belum bisa menjelaskan di forum ini sebab forum ini hanya membahas masalah laundry rumah sakit jadi akan saya buat lagi blok khusus tentang mengelola bisnis laundry secara menguntungkan dari sudut pandang UKM (usaha kredit menengah) karena saya ngak fasih dengan cooperate, membangun intrik dari sisi UKM menanggapi politik cooperate dari sudut pandang teknik, startegi dan keuntungan.

Prinsip kerja deterjen dalam membersihkan dan mengangkat kotoran dalam pakaian

Setiap hari manusia menggunakan deterjen untuk mencuci pakaian, tapi sedikit yang tahu bagaimana deterjen tersebut dapat membersihkan pakaian. Sepanjang sejarah banyak usaha dilakukan untuk membantu kita mengerjakan pekerjaan mencuci. Pencucian dengan air saja, bahkan dengan penggosokan atau putaran mesin sekeras apapun, akan menghilangkan sebagian saja bercak, kotoran dan partikel-partikel tanah. Air saja tidak dapat menghilangkan debu yang tak larut dalam air. Air juga tak mampu menahan debu yang telah lepas dari kain agar tetap tersuspensi (tetap berada di air, jadi tidak kembali menempel ke kain). Jadi diperlukan bahan yang dapat membantu mengangkat kotoran dari air dan kemudian menahan agar kotoran yang telah terangkat tadi, tetap tersuspensi.

Sejak ratusan tahun lalu telah dikenal sabun, yakni persenyawaan antara minyak atau lemak dan basa. Awalnya orang-orang Arab secara tak sengaja menemukan bahwa campuran abu dan lemak hewan dapat membantu proses pencucian. Walaupun berbagai usaha perbaikan pada kualitas dan proses pembuatan sabun telah dilakukan, semua sabun hingga kini mempunyai satu kekurangan utama yakni akan bergabung dengan mineral-mineral yang terlarut dalam air membentuk senyawa yang sering disebut lime soap (sabun-kapur), membentuk bercak kekuningan di kain atau mesin pencuci. Akibatnya kini orang mulai meninggalkan sabun untuk mencuci seiring dengan meningkatnya popularitas deterjen.

Deterjen

Cara kerja Deterjen Deterjen dalam kerjanya dipengaruhi beberapa hal, yang terpenting adalah jenis kotoran yang akan dihilangkan dan air yang digunakan. Deterjen, khususnya surfaktannya, memiliki kemampuan yang unik untuk mengangkat kotoran, baik yang larut dalam air maupun yang tak larut dalam air. Salah satu ujung dari molekul surfaktan bersifat lebih suka minyak atau tidak suka air, akibatnya bagian ini mempenetrasi kotoran yang berminyak. Ujung molekul surfaktan satunya lebih suka air, bagian inilah yang berperan mengendorkan kotoran dari kain dan mendispersikan kotoran, sehingga tidak kembali menempel ke kain. Akibatnya warna kain akan dapat dipertahankan.

Komposisi Deterjen Dari penjelasan tentang cara kerja deterjen, disimpulkan komponen penting deterjen adalah surfaktan. Fungsi surfaktan sekali lagi adalah untuk meningkatkan daya pembasahan air sehingga kotoran yang berlemak dapat dibasahi, mengendorkan dan mengangkat kotoran dari kain dan mensuspensikan kotoran yang telah terlepas. Surfaktan yang biasa digunakan dalam deterjen adalah linear alkilbenzene sulfonat, etoksisulfat, alkil sulfat, etoksilat, senyawa amonium kuarterner, imidazolin dan betain. Linear alkilbenzene sulfonat, etoksisulfat, alkil sulfat bila dilarutkan dalam air akan berubah menjadi partikel bermuatan negatif, memiliki daya bersih yang sangat baik, dan biasanya berbusa banyak (biasanya digunakan untuk pencuci kain dan pencuci piring).

Etoksilat, tidak berubah menjadi partikel yang bermuatan, busa yang dihasilkan sedikit, tapi dapat bekerja di air sadah (air yang kandungan mineralnya tinggi), dan dapat mencuci dengan baik hampir semua jenis kotoran. Senyawa-senyawa amonium kuarterner, berubah menjadi partikel positif ketika terlarut dalam air, surfaktan ini biasanya digunakan pada pelembut (softener). Imidazolin dan betain dapat berubah menjadi partikel positif, netral atau negatif bergantung pH air yang digunakan. Kedua surfaktan ini cukup kestabilan dan jumlah buih yang dihasilkannnya, sehingga sering digunakan untuk pencuci alatalat rumah tangga. Setelah surfaktan, kandungan lain yang penting adalah penguat (builder), yang meningkatkan efisiensi surfaktan.

Builder digunakan untuk melunakkan air sadah dengan cara mengikat mineral-mineral yang terlarut, sehingga surfaktan dapat berkonsentrasi pada fungsinya. Selain itu, builder juga membantu menciptakan kondisi keasaman yang tepat agar proses pembersihan dapat berlangsung lebih baik serta membantu mendispersikan dan mensuspensikan kotoran yang telah lepas. Yang sering digunakan sebagai builder adalah senyawa kompleks fosfat, natrium sitrat, natrium karbonat, natrium silikat atau zeolit. Selain dua komponen utama tadi, deterjen masih mengandung komponen-komponen lain seperti tabel berikut:

Klaim busa banyak? Pertimbangan banyak busa adalah pertimbangan salah kaprah tapi selalu dianut oleh banyak konsumen. Banyaknya busa tidak berkaitan secara signifikan dengan daya bersih deterjen, kecuali deterjen yang digunakan untuk proses pencucian dengan air yang jumlahnya sedikit (misalnya pada pencucian karpet). Untuk kebanyakan kegunaan di rumah tangga, misalnya pencucian dengan jumlah air yang berlimpah, busa tidak memiliki peran yang penting. Mengapa dalam pencucian dalam jumlah air yang sedikit, busa penting? Karena dalam pencucian dengan sedikit air, busa akan berperan untuk tetap “memegang” partikel yang telah dilepas dari kain yang dicuci, dengan demikian mencegah mengendapnya kembali kotoran tersebut.

Sedikit pengetahuan tentang proses pembuatan deterjen atau sabun

Pengantar
Detergen merupakan salah satu produk industri yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama untuk keperluan rumah tangga dan industri. Detergen dapat berbentuk cair, pasta, atau bubuk yang mengandung konstituen bahan aktif pada permukaannya dan konstituen bahan tambahan. Konstituen bahan aktif adalah berupa surfaktan yang merupakan singkatan dari surface active agents, yaitu bahan yang menurunkan tegangan permukaan suatu cairan dan di antarmuka fasa (baik cair-gas maupun cair-cair) untuk mempermudah penyebaran dan pemerataan. Adapun konstituen tambahan dapat berupa pembangun, zat pengisi, zat pendorong, diantaranya adalah : Garam dodesilbenzena sulfonat, natrium lauril eter sulfat, kokonum sitrat, dan metil paraben. Detergen pertama yang dihasilkan yaitu natrium lauril sulfat (NSL) yang berasal dari lemak trilausil yang kemudian direduksi dengan hidrogen dibantu dengan katalis. Setelah itu, direaksikan dengan asam sulfat lalu dinetralisasi. Karena proses produksinya yang mahal, maka penggunaan NSL ini tidak dilanjutkan. Industri deterjen selanjutnya dikembangkan dengan menggunakan alkil benzena sulfonat (ABS). Akan tetapi, ABS ini memiliki dampak negatif terhadap lingkungan karena molekul ABS ini tidak dapat dipecahkan oleh mikroorganisme sehingga berbahaya bagi persediaan suplai air tanah. Selain itu, busa dari ABS ini menutupi permukaan air sungai sehingga sinar matahari tidak bisa masuk pada dasar sungai yang dapat menyebabkan biota sungai menjadi mati dan sungai menjadi tercemar. Perkembangan selanjutnya ABS diganti dengan linear alkil sulfonat (LAS). Detergen ini memiliki rantai karbon yang panjang dan dapat dipecahkan oleh mikroorganisme sehingga tidak menimbulkan busa pada air sungai. Akan tetapi, LAS juga memiliki kekurangan yaitu dapat membentuk fenol, suatu bahan kimia beracun. Deterjen yang beredar di pasaran atau yang dikonsumsi sebagian masyarakat Indonesia merupakan hasil produksi dalam negeri, tetapi dengan lisensi dari perusahaan luar negeri. Sebagai contoh detergen dari produk PT Unilever yang berpusat di Perancis, dan detergen produk Kao. Bahan Aditif pada Deterjen Tabel 1. Bahan Aditif Pada Detergen
Komposisi
Fungsi Utama
Contoh
Abrasives
Menyediakan pelicin, scrubbing dan/atau pengkilap
Calcite Feldspar Quartz Sand

Komposisi
Fungsi Utama
Contoh
Acids
Menetralisir atau mengatur kebasaan dari komposisi lain
Asam asetat Asam sitrat Asam hidroklorida Asam phosfat Asam Sulfat
Alkalis
Menetralisir atau mengatur keasaman dari komposisi lain Membuat surfaktan dan builders lebih efisien Meningkatkan kebasaan Kebasaan berguna untuk membersihkan kotoran asam, lemak dan minyak. Sehingga, detergen akan lebih efektif ketika bersifat basa
Amonium hidroksida etanolamin natrium karbonat natrium hidroksida natrium silikat
Antimicrobial agents
Membunuh atau menghambat pertumbuhan organisme yang dapat menyebabkan penyakit dan/atau bau
Minyak cemara senyawa ammonium kuartener natrium hipoklorit Triclocarban Triclosan
Antiredeposition agents
Mencegah kotoran balik lagi
Selulosa karboksi metil polikarbonat polietilen glikol natrium silikat
Bleaches
Memutihkan, mencerahkan dan membersihkan noda
Chlorine bleach
desinfektan
Natrium hypoklorit
Oxygen bleach
Dalam beberapa produk, dapat ditambahkan dengan activator pemutih untuk hasil yang lebih baik pada temperatur air yang rendah
Natrium perborat natrium perkarbonat
Colorant
 mempertahankan warna
Pigments or dyes
Corrosion inhibitors
Melindungi bagian mesin yang berupa logam dan lapisan penutup
Natrium silikat
Enzymes
 Protein diklasifikasikan berdasarkan jenis kotoran yang akan dibersihkan oleh detergen
Amylase (starch soils) Lipase (fatty and

Komposisi
Fungsi Utama
Contoh
 Selulosa mereduksi pilling dan greying dari kain yang mengandung kapas dan membantu menghilkangkan kotoran partikulat
oily soils) Protease (protein soils) Cellulase
Fabric softening agents
Memberi kelembutan pada kain
Quaternary ammonium compounds
Fluorescent whitening agents
Membuat kain terlihat lebih cemerlang dan putih ketika terkena sinar
Colorless fluorescing compounds
Fragrances
 Menutupi bau
 Memberikan bau yang sedap pada pakaian dan ruangan
Fragrance blends
Jenis-jenis Deterjen Berdasarkan senyawa organik yang dikandungnya, detergen dikelompokkan menjadi :
a. Detergen anionik (DAI)
Merupakan detergen yang mengandung surfaktan anionik dan dinetralkan dengan alkali. Detergen ini akan berubah menjadi partikel bermuatan negatif apabila dilarutkan dalam air. Biasanya digunakan untuk pencuci kain. Kelompok utama dari detergen anionik adalah : Rantai panjang (berlemak) alkohol sulfat Alkil aril sulfonat Olefin sulfat dan sulfonat
b. Detergen kationik
Merupakan detergen yang mengandung surfaktan kationik. Detergen ini akan berubah menjadi partikel bermuatan positif ketika terlarut dalam air, biasanya digunakan pada pelembut (softener). Selama proses pembuatannya tidak ada netralisasi tetapi bahan-bahan yang mengganggu dihilangkan dengan asam kuat untuk netralisasi. Agen aktif permukaan kationik mengandung kation rantai panjang yang memiliki sifat aktif pada permukaannya. Kelompok utama dari detergen kationik adalah : Amina asetat (RNH3)OOCCH3 (R=8 sampai 12 atom C) Alkil trimetil amonium klorida (RN(CH3))3+ (R=8 sampai 18 atom karbon) Dialkil dimetil amonium klorida (R2N(CH3)2)+Cl- (R=8 sampai 18 atom karbon) Lauril dimetil benzil amonium klorida (R2N(CH3)2CH2C2H6)Cl
c. Detergen nonionik
Merupakan senyawa yang tidak mengandung molekul ion sementara, kedua asam dan basanya merupakan molekul yang sama. Detergen ini tidak akan berubah menjadi

partikel bermuatan apabila dilarutkan dalam air tetapi dapat bekerja di dalam air sadah dan dapat mencuci dengan baik hampir semua jenis kotoran. Kelompok utama dari detergen nonionik adalah : Etilen oksida atau propilen oksida Polimer polioksistilen
HO(CH2CH2O)a(CHCH2O)b(CH2CH2O)cH CH3 Alkil amida
HOCHCH3NH2-HOOCC17O38 R
d. Detergen Amfoterik
Detergen jenis ini mengandung kedua kelompok kationik dan anionik. Detergen ini dapat berubah menjadi partikel positif, netral, atau negatif bergantung kepada pH air yang digunakan. Biasanya digunakan untuk pencuci alat-alat rumah tangga. Kelompok utama dari detergen ini adalah : Natrium lauril sarkosilat ( CH3(CH2)10CH2NHCH2CH2CH2COONa) dan natrium mirazol. Berdasarkan kegunaannya jenis-jenis deterjen adalah sebagai berikut :
1. Detergen pencuci kain, mengandung alkohol etoksilat dan alkil fenoletoksilat
2. Detergen pencuci piring mengandung zat seperti detergen pencuci tangan
3. Detergen pembersih peralatan rumah tangga yang mengandung heksa dekiltrimetil amonium klorida
4. Detergen pembersih industri mengandung zat seperti detergen pembersih rumah tangga
5. Detergen pembersih gigi yang mengandung natrium lauril sarkosionat
6. Detergen pelembut kain yang mengandung diokta dekildimetil amonium klorida
Pembuatan Deterjen Bahan dasarnya adalah dodekil benzena. Reaksi dilakukan dalam reaktor bersisi kaca yang dipasang dengan mixer efisien. Dodekil benzena dimasukkan ke dalam reaktor kaca dicampur dengan asam 22% oleum, pada suhu antara 32-46°C. Kemudian dicampurkan pada suhu 46°C selama kurang lebih 2 jam sampai reaksi selesai. Tahapan berikutnya netralisasi dengan NaOH yang memberikan 60% alkil aril sulfonat dan 40% diluet (natrium sulfat). Adapun pembuatan deterjen dengan berbagai jenis deterjen dilakukan sebagai berikut :
a. Detergen Anionik
Alkil aril sulfonat
Alkil aril sulfonat terbentuk dari sulfonasi alkil benzena, alkil benzena mengandung inti dengan satu atau lebih rangkaian alifatik (alkil). Inti alkil benzena bisa benzena, toluene, xylena, atau fenol. Alkil benzena yang biasa digunakan adalah jenis DDB (deodecil benzena). Pembuatan deodecil benzena (C6H6C12H25) dilakukan dengan alkilasi benzena dengan alkena (C12H24) dibantu dengan katalis asam. Alkilasi benzena kemudian dilakukan reaksi Fiedel-

Craft. Detergen alkil benzena yang dihasilkan melalui proses Fiedel-Craft memliki sifat degradasi biologis yang buruk karena terdapat 300 isomer dari propilen tetramer. Olefin sulfat dan sulfonat Diproses dengan tiga cara, yaitu : Proses Oxo Olefin direksikan dengan karbon monoksida dan hidrogen pada suhu 160°C sampai 175°C dengan tekanan 100-250 atm, menghasilkan aldehida. Aldehida kemudian dihidrogenasi dengan bantuan nikel sebagai katalis sehingga menghasilkan suatu senyawa alkohol. Aldehida berkurang pada saat terbentuknya alkohol. Alkohol yang dihasilkan dari proses oxo sebagian besar memiliki berat molekul kecil dibandingkan berat molekul alkohol alami. Oxo-alkohol yang memiliki berat molekul tinggi mengalami sulfonasi. Alkohol ini banyak digunakan untuk kosmetik dan produk cairan rumah tangga (tidak digunakan untuk bahan dasar pembuatan detergen). Proses Alfol ( Proses Ziegar) Pada proses ini aluminium trietil dihilangkan dengan logam aluminium dan hidrogen untuk menghasilkan dietilaluminium hidrida. Hidrida dihilangkan dengan etena untuk menghasilkan 3 mol aluminium trietil. Dua pertiganya didaur ulang, sementara sisa trietil direaksikan dengan etena untuk menghasilkan campuran berat molekul tinggi pada aluminium alkil. Kemudian alkil aluminium dioksidasi dan dihidrolisis dengan air untuk menghasilkan alkohol dan aluminium hidroksida. Proses WI. Welsh Pada proses ini alfa olefin direaksikan dengan hidrogen bromida dengan bantuan peroksida atau cahaya ultraviolet. Alkil bromida diubah menjadi ester melalui logam halida yang katalisasi dengan asam organik. Ester kemudian dihidrolisis menghasilkan alkohol. Reaksinya : HBr, UV RCOOH3
RCH = CH RCH2CH2Br RCH2CH2OOR’ Logam halida Hidrolisis, H2O
RCH2CH2OOR’ RCH2CH2OH -R’COOH
b. Detergen kationik
Amina asetat (RNH3)OOCCH3 Dihasilkan dengan menetralisasi amina lemak dengan asam asetat dan dapat larut dalam air. Alkil trimetil ammonium klorida (RN(CH3))3+Cl- Dihasilkan dari alkilasi lengkap amina lemak atau tetriari amina dengan alkil halida lemak. Reaksi :
1. R-NH2 + 3 CH3Cl RN(CH2)2Cl + HCl
2. R2NH + 2 CH2Cl R2N(CH2)2Cl + HCl c. Detergen nonionik Pembuatan detergen nonionik adalah : Etilen oksida
Proses pembuatannya dengan mereaksikan senyawa yang mengandung kelompok hidrofobik dengan etilen oksida atau propilen oksida, dilakukan pada suhu 150-220°C. Hasil yang diperoleh dinetralkan dengan 30% asam sulfur dan asam asetat glasial. Amina oksida Proses pembuatannya dengan mengoksidasi amina tetriari. d. Detergen amfoterik Proses pembuatannya yaitu amina lemak dasar (lauril amina) direksikan dengan metil akrilat untuk menghasilkan ester N-lemak--amino propionik. Kemudian disaponifikasi dengan NaOH membentuk garam natrium.
Reaksi : lauril amina + metil akrilat natrium lauril sarkosinat
CH3(CH2)10CH2NH2 + CH2=CHCOOCH3 CH3(CH2)10CH2NHCH2CH2COOCH3 NaOH
CH3(CH2)10CH2NHCH2CH2COONa -CH3OH natrium lauril sarkosinat 5. MEKANISME KERJA DETERJEN Kinerja deterjen, khususnya surfaktannya, memiliki kemampuan yang unik untuk mengangkat kotoran, baik yang larut dalam air maupun yang tak larut dalam air. Salah satu ujung dari molekul surfaktan bersifat lebih suka minyak atau tidak suka air, akibatnya bagian ini mempenetrasi kotoran yang berminyak. Ujung molekul surfaktan satunya lebih suka air, bagian inilah yang berperan mengendorkan kotoran dari kain dan mendispersikan kotoran, sehingga tidak kembali menempel ke kain. Akibatnya warna kain akan dapat dipertahankan. Jika kotoran berupa minyak atau lemak maka akan membentuk emulsi minyak–air dan detergen sebagai emulgator (zat pembentuk emulsi). Sedangkan apabila kotoran yang berupa tanah akan diadsorpsi oleh detergen kemudian mambentuk suspensi butiran tanah-air, dimana detergen sebagai suspensi agent (zat pembentuk suspensi). Jenis Surfaktan dan Builders Secara umum surfaktan di bedakan menjadi 4 macam berdasarkan sifat ioniknya, yaitu:
a. Surfaktan anionik
Surfaktan ini bila terionisasi dalam air/larutan membentuk ion negatif. Surfaktan ini banyak digunakan untuk pembuatan detergen mesin cuci, pencuci tangan dan pencuci alat-alat rumah tangga. Surfaktan ini memiliki sifat pembersih yang sempurna dan menghasilkan busa yang banyak. Contoh surfaktan ini yaitu, alkilbenzen sulfonat linier, alkohol etoksisulfat, dan alkil sulfat.
b. Surfaktan nonionik
Surfaktan ini tidak dapat terionisasi dalam air/larutan sehingga surfaktan ini tidak memiliki muatan. Dalam pembuatan detergen surfaktan ini memiliki keuntungan yaitu tidak terpengaruh oleh keadaan air karena surfaktan ini resisten terhadap air sadah. Selain itu juga detergen yang dihasilkan hanya menghasilkan sedikit busa. Contohnya alkohol etoksilat.
c. Surfaktan kationik
Surfaktan ini akan terionisasi dalam air/larutan membentuk ion positif. Dalam detergen, surfaktan ini banyak digunakan sebagai pelembut. Contohnya senyawa amonium kuarterner
d. Surfaktan amfoterik

Bila terionisasi dalam air/larutan akan terbentuk ion positif, ion negative atau nonionik bergantung pada pH air/larutannya. Surfaktan ini digunakan untuk pencuci alat-alat rumah tangga. Contoh imidazolin dan betain. Setelah surfaktan, kandungan lain yang penting adalah penguat (builder), yang meningkatkan efisiensi surfaktan. Builder digunakan untuk melunakkan air sadah dengan cara mengikat mineral-mineral yang terlarut, sehingga surfaktan dapat berkonsentrasi pada fungsinya. Selain itu, builder juga membantu menciptakan kondisi keasaman yang tepat agar proses pembersihan dapat berlangsung lebih baik serta membantu mendispersikan dan mensuspensikan kotoran yang telah lepas. Yang sering digunakan sebagai builder adalah senyawa kompleks fosfat, natrium sitrat, natrium karbonat, natrium silikat atau zeolit. Namun detergen fosfat memiliki dampak negatif terhadap lingkungan. Yaitu bila bercampur dengan air, fosfat menyebabkan masalah yang besar karena ion fosfat merupakan makanan ganggang sehingga menimbulkan eutrofikasi. Builder lain yang digunakan saat ini yaitu sodium perborat (NaBO2.H2O2) dan sodium metasilikat (Na2SiO3). Builder ini tidak begitu membahayakan lingkungan tetapi builder ini membentuk larutan kaustik yang menimbulkan iritasi pada kulit. Ketika natrium perborat bereaksi dengan air akan membentuk sebuah basa kuat dengan reaksi sebagai berikut :
NaBO2.H2O2 + H2O2 + H2O NaOH + HBO2 + H2O2 Hidrogen peroksida sebagai bahan pemutih dan pengurai yang membebaskan oksigen, reaksinya sebagai berikut :
2H2O2 2H2O + O2 Ketika natrium metasilikat bereaksi dengan air juga akan membentuk larutan basa kuat, reaksinya sebagai berikut :
Na2SiO3 + H2O 2NaOH + H2SiO3 Dampak Deterjen terhadap Lingkungan Masalah yang ditimbulkan akibat pemakaian detergen terletak pada pemakaian jenis surfaktan dan gugus pembentuk. Akibat Surfaktan Di dalam air, sisa detergen harus mampu mengalami degradasi (penguraian) oleh bakteri-bakteri yang umumnya terdapat di alam. Lambatnya proses degradasi ini mengakibatkan timbulnya busa di atas permukaan air, dalam jumlah yang makin lama makin banyak. Hal ini disebabkan oleh bentuk struktur surfaktan yang dipakai. Jika struktur kimia berupa rantai lurus, gugus surfaktan ini mudah diuraikan.
C-C-C-C-C-C-C-C-C- (terurai cepat)
SO3Na Sedangkan jika struktur berupa rantai bercabang, maka surfaktan ini sulit dipecahkan.
C
C-C-C-C-C-C-C-C-C- (terurai lambat)
C

SO3Na Akibat Gugus Pembentukan Masalah yang ditimbulkan oleh gugus pembentuk yaitu gugus ini akan mengalami hidrolisis yang menghasilkan ion ortofosfat.
P3O105- + 2H2O 2HPO42- + H2PO4- Kedua gugus ini sangat berpengaruh dalam proses eutrofikasi, yang bisa mengakibatkan tanaman alga dan tanaman air tumbuh secara liar. Penanggulangan Limbah Deterjen Pada produksi surfaktan anionik digunakan H2SO4 encer dengan reaktor film tipis. Terdapat dua macam limbah atau buangan utama yang harus diperhatikan yaitu limbah air cucian dari pembersih bejana yang dinetralkan dan sisa SO3 yang tidak bereaksi. Air cucian biasanya sedikit mengandung bahan aktif permukaan anionik yang biasanya diolah dengan proses biologi yang serupa dengan pengolahan limbah utama. Degradasi bakterial pada kondisi aerob mengubah surfaktan anionik menjadi karbon dioksida dan air. Limbah asam dari reactor dicuci dan dinetralisasi dengan air kapur membentuk kalsium sulfat yang tidak larut. Gas sulfonat yang dihasilkan dialirkan ke dalam siklon untuk memisahkan kabut asam dari gas-gas. Asam hasil pemisahan di masukkan kembali ke aliran produknya dan bila gas itu masih mengandung SO3 akan dilewatkan kembali ke zona reaksi. Gas cerobong yang mengandung SO2 dan SO3 mula-mula akan dilewatkan ke dalam pengendap elektrostatik untuk mengusir asam sulfat dan asam sulfit yang mungkin terbentuk karena adanya uap dalam instalasinya. Gas dari pengendapan akan dimasukkan ke dalam suatu penggosok arus, yang akan bercampur dengan suatu larutan soda kaustik di dalam air. Proses ini digunakan untuk mengusir semua residu SO2 dan SO3, sehingga dihasilkan udara bersih.

Rahasia proses pembuatan sabun atau deterjen

Bagaimana cara orang membuat sabun?! Setiap sabun dibuat melalui reaksi antara lemak dengan bahan yang disebut alkali/basa yang sangat kuat. Keadaan serba kotor yang dijumpai dalam pembuatan sabun bertentangan sekali dengan penggunaannya sebagai pembersih.
Sabun yang ditemukan pertama kali oleh bangsa Arab pada abad ke-19, pada dasarnya terbuat dari proses pencampuran  (safonifikasi) soda kaustik dengan minyak nabati (minyak
tumbuh–tumbuhan) atau minyak hewani (minyak yang berasal dari lemak hewan).
Mengingat sifat sabun yang berasal dari bahan alami, masyarakat pengguna yang mengkonsumsi sabun pun nyaris tak mengalami gangguan seperti alergi atau kerusakan pada kulitnya. Sabun sebagai bahan pembersih yang berbentuk cair maupun padat, bisa digunakan untuk mandi, mencuci pakaian, atau membersihkan peralatan rumah tangga.
Orang–orang Romawi pada zamannya membuat sabun dengan cara sebagai berikut : Batu kapur dipanaskan untuk menghasilkan kapur. Kapur yang basah ditaburkan di atas abu kayu yang masih panas kemudian diaduk sampai rata. Selanjutnya, dengan sebuah sekop, orang menyendok bubur kelabu yang dihasilkan ke dalam
sebuah bejana berisi air panas dan mendidihkannya dengan tambahan beberapa potong lemak domba selama beberapa jam. Ketika lapisan buih berwarna cokelat kotor yang tebal terbentuk
di permukaannya, dan menjadi keras setelah dingin, mereka memotong–motong lapisan keras tadi.
Itulah sabun kita. Sabun masa kini terbuat dari macam–macam lemak, termasuk lemak daging sapi dan anak domba, juga minyak kelapa, minyak biji kapas, dan minyak zaitun. Alkali yang digunakan dalam pembuatan sabun sekarang biasanya bahan yang disebut Lye (soda api atau natrium hidroksida). Kapur juga alkali yang mudah di dapat, sedangkan abu kayu kadang–kadang masih dipakai meski hanya sedikit karena bahan ini mengandung kalium karbonat yang bersifat basa.                                                         Molekul sabun mempertahankan beberapa ciri kedua orangtuanya karena dibuat melalui pencampuran sebuah senyawa organik (asam lemak) dengan sebuah senyawa anorganik (alkali). Molekul sabun mempunyai sebuah kaki organik yang bergandengan dengan
bahan–bahan organik berminyak, dan sebuah kaki anorganik yang senang bergandengan dengan air.
Itu sebabnya sabun mempunyai kemampuan tiada banding dalam menarik kotoran berminyak dari tubuh atau pakaian ke dalam air. Sebagai bahan pembersih lainnya, deterjen merupakan
buah kemajuan teknologi yang memanfaatkan bahan kimia dari hasil samping penyulingan minyak bumi, ditambah dengan bahan kimia lainnya seperti fosfat, silikat, bahan pewarna, dan bahan pewangi. Sekitar tahun 1960-an, deterjen generasi awal muncul menggunakan bahan kimia pengaktif permukaan (surfaktan) Alkyl Benzene Sulfonat (ABS) yang mampu menghasilkan busa. Namun
karena sifat ABS yang sulit diurai oleh mikroorganisme di permukaan tanah, akhirnya digantikan dengan senyawa Linie Alkyl Sulfonat (LAS) yang diyakini relatif lebih akrab dengan lingkungan.
Beberapa produk sabun zaman sekarang memang mencantumkan surfaktan LAS dan klaim mengandung enzim. Surfaktan (surface active agent)merupakan zat aktif permukaan yang mempuyai ujung berbeda yaitu hidrofil (suka air) dan hidrofob (suka lemak). Bahan aktif ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan, atau istilah teknisnya, ia berfungsi sebagai emulsifier, bahan pengemulsi.
Pada kondisi aerob (cukup oksigen dan mikroorganisme), LAS memang cepat terurai. Tetapi, Las tidak dapat terurai pada kondisi anaerob (tidak terdapat udara). LAS yang tidak terurai ini
memiliki efek sangat toksik bagi organisme (cukup dapat ematikan ikan dalam kadar 3-10 mg/liter) dan bersifat bioakumulatif (tersimpan dalam jaringan).
Beberapa produsen menambahkan enzim dengan maksud membantu menghilangkan noda protein, lemak, dan darah yang sukar dihilangkan melalui pencucian biasa. Tetapi, enzim hanya akan sangat bermanfaat bila dipakai pada pencucian dengan air hangan. Penggunaan sabun sebagai bahan pembersih yang dilarutkan dengan air di wilayah pegunungan atau daerah pemukiman bekas rawa sering tidak menghasilkan busa. Hal itu disebabkan oleh sifat sabun yang tidak akan menghasilkan busa jika dilarutkan dalam air sadah (air yang mengandung logam –logam atau kapur). Tetapi, penggunaan deterjen dengan air yang bersifat sadah, akan tetap menghasilkan busa yang berlimpah.
Sabun maupun deterjen yang dilarutkan dalam air pada proses pencucian, akan membentuk emulsi bersama kotoran yang akan terbuang saat dibilas. Ada pendapat keliru bahwa semakin
melimpahnya busa air sabun akan membuat cucian menjadi lebih bersih.
Busa dengan luas permukaannya yang besar memang bisa menyerap kotoran debu, tetapi dengan adanya surfaktan, pembersihan sudah dapat dilakukan tanpa perlu adanya busa. Busa
itu sendiri merupakan indikator yang langsung dapat dilihat sebagai penyebab masalah lingkungan. Jadi, proses pencucian tidak bergantung ada atau tidaknya busa atau sedikit dan banyaknya busa yang dihasilkan.

bisnis kimia laundry cling

Laundry, kimia laundry, IBL 29, merk ” IBL 29 “, softener super, deterjen matic ” IBL 29″, alkaline booster, oxigen bleach, homecare, pembersih keramik, sabun, proses pembuatan, launrdy, bisnis laundry, cling

Baca lebih lanjut